Kupas Lebih Dalam Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

kesehatan-reproduksi-perempuan-20220305123842

Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat perempuan secara fisik, mental dan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan.

Kesehatan Reproduksi Perempuan

Masalah kesehatan reproduksi pada seorang perempuan sangat dirasakan ketika masa kesuburannya berakhir (menopause), meskipun sebenarnya seorang laki- laki juga akan menghadapi hal yang sama yaitu mengalami penurunan fungsi reproduksi (andropause) walaupun dalam hal ini kejadiannya lebih tua dibanding pada seorang perempuan.

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang amat mungkin tiap tiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kebugaran adalah upaya penanggulangan dan pencegahan problem kebugaran yang butuh pemeriksaan, penyembuhan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.

Kesehatan Reproduksi (Kespro) perempuan  mutlak diketahui untuk bisa diterapkan kepada anggota keluarga dalam menanggulangi masalah reproduksi perempuan. Kesehatan Reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala faktor yang terkait dengan sistem reproduksi, kegunaan serta prosesnya.

Kondisi yang harus dimiliki oleh seorang perempuan untuk capai fertilitas yang maksimum :

Dia harus di dalam keadaan tubuh yang sehat;  yaitu harus bebas berasal dari penyakit dan kekurangan gizi yang bisa saja mempunyai dampak sterilitas atau ketidaksuburan atau mengurangi tingkat keselamatan janin.

Dia harus jalankan jalinan seksual secara tertib di dalam era suburnya, mulai berasal dari era awal tapi tidak terlalu awal agar membahayakan kesehatan bersama dengan bersama dengan bersama dengan bersama dengan kehamilan yang tidak pas waktunya.

Dia harus menjauhkan periode abstinen yang terlalu lama sebab berpisah bersama dengan bersama dengan bersama dengan bersama dengan pasangannya, menjauhkan prasangka yang membuktikan tabu untuk jalankan jalinan seksual selama era kehamilan dan era nifas atau era menyusui, dan  hal-hal tabu lainnya berdasarkan agama atau pertimbangan lainnya.

Dia harus sanggup mengganti pasangan reproduktifnya atau melacak pasangan alternatif jikalau pasangan laki-lakinya steril atau jadi impoten.

Dia harus sanggup mempunyai pasangan meskipun di dalam keadaan janda.

Bagaimanapun, ada perbedaan harus pada fertilitas maksimum bersama dengan bersama dengan bersama dengan bersama dengan jumlah maksimum anak yang sanggup selamat (anak pernah lahir hidup) (Easterlin, 1978). Sebagai contoh nutrisi berasal dari bayi dan anak yang baik sanggup sanggup memperpanjang periode menyusui agar memperpanjang era nifas dan bisa saja menunda awal berasal dari jalinan seksual hingga pembuahan seterusnya berharap dilakukan. Hubungan bersama dengan bersama dengan bersama dengan bersama dengan lebih berasal dari satu pasangan sanggup beresiko mempunyai dampak sterilitas atau ketidaksuburan melalui penyebaran penyakit kelamin, perihal seterusnya termasuk bisa saja sanggup memperlemah rasa tanggungjawab pada perawatan anak agar sanggup kurangi tingkat probabilitas hidup si anak. Oleh sebab itu memaksimalkan jumlah anak yang selamat bergantung pada jumlah yang optimal bukan pada jumlah yang maksimal untuk sejumlah variabel bebas ; fungsi yang mengkaitkan jalinan pada jumlah anak yang selamat dan variabel bebas seterusnya kadang sementara berwujud kurva terbalik bukan berwujud linier.

Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.

Masalah Remaja

Program kesehatan reproduksi remaja mulai menjadi perhatian pada beberapa tahun terakhir ini karena beberapa alasan:

Ancaman HIV/AIDS menyebabkan perilaku seksual dan kesehatan y yreproduksi remaja muncul ke permukaan. Diperkirakan 20-25% dari semua infeksi HIV di dunia terjadi pada remaja. Demikian pula halnya dengan kejadian IMS yang tertinggi di remaja, terlebih remaja perempuan, pada klasifikasi usia 15-29.3

Meskipun angka kelahiran pada perempuan berusia di bawah 20 tahun menurun, jumlah kelahiran pada remaja meningkat karena pendidikan seksual atau kesehatan reproduksi serta pelayanan yang dibutuhkan.

Seandainya pengetahuan mengenai KB dan cara kontrasepsi meningkat pada pasangan usia subur yang sudah menikah, tak ada bukti yang menyuarakan hal serupa terjadi pada populasi remaja.

Pengetahuan dan praktik pada tahap remaja akan menjadi dasar perilaku yang sehat pada jenjang selanjutnya dalam kehidupan. Sehingga, investasi pada program kesehatan reproduksi remaja akan berkhasiat selama hidupnya.

Kelompok populasi remaja sangat besar; dikala ini lebih dari separuh populasi dunia berusia di bawah 25 tahun dan 29% berusia antara 10-25 tahun.

Menanggapi hal itu, karenanya Konferensi Internasinal Kependudukan dan Pembangunan di Kairo tahun 1994 menyarankan bahwa respons masyarakat kepada kebutuhan kesehatan reproduksi remaja haruslah berdasarkan informasi yang menolong mereka menjadi dewasa yang dibutuhkan untuk membikin keputusan yang bertanggung jawab.

Pengguguran, kehamilan dan kontrasepsi pada remaja

Pengguguran diartikan sebagai perbuatan menghentikan kehamilan dengan sengaja sebelum bayi dalam kandungan dapat hidup diluar kandungan (sebelum kehamilan 20 minggu atau berat bayi dalam kandungan masih kurang dari 500 gram) tanpa indikasi medis yang jelas.Pada remaja dikota besar yang mempunyai ragam Early sexual experience, late marriage, karenanya hal inilah yang menyokong terjadinya situasi sulit pengguguran biasanya terjadi di kota besar. Disinyalir bahwa dikala ini di Indonesia terjadi 2,6 juta pengguguran setiap tahunnya. Sebanyak 700.000 diantaranya pelakunya adalah remaja. Data mengenai pengguguran di Indonesia seringkali tak seperti itu pasti karena dalam proses kasus pengguguran baik si pelaku yang diaborsi ataupun yang mengerjakan indakan pengguguran tak pernah melaporkan kejadian tersebut, pun seringkali dilakukan secara bersembunyi bersembunyi. Pada pertemuan Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Kairo tahun 1994, sudah dikemukakan mengenai hak hak wanita dalam mendapatkan pelayanan Kesehatan Reproduksi yang baik, diantaranya bahwa mereka mempunyai hak mendapatkan pelayanan Pengguguran yang aman (safe abortion), hal ini dimaksudkan untuk menurunkan angka kematian maternal yang hal inilah yang mungkin adalah salah satu hambatan dalam upaya menyelenggarakan pelayanan pengguguran yang aman.

Pencegahan pengguguran adalah usaha yang seharusnya diutamakan terlebih dulu dalam upaya penurunan angka kematian maternal. Sebuah organisasi di Amerika Serikat/Kanada Ontario Consultant on Religious Tolerance sebuah organisasi yang mempunyai misi menurunkan angka pengguguran di Amerika Serikat mengemukakan mengenai mengapa terdapat perbedaan angka kehamilan tak diharapkan dan angka pengguguran, dimana kejadian di Eropa rupanya jauh lebih rendah dibandingkan di Amerika Serikat. Pada penelitian itu dikemukakan mengapa angka kehamilan yang tak diharapkan dan angka pengguguran di Eropa lebih rendah dari pada Amerika Serikat karena baik dari masyarakat ataupun pemerintahnya mempunyai beberapa situasi yang secara umum ditunjukkan sebagai berikut bahwa di Eropa kaum muda melihat kehamilan yang tak diharapkan dan pengguguran adalah malapetaka, sehingga mempunyai prioritas yang tinggi dalam mencegah situasi itu, remaja yang lebih bertanggung jawab atas reproduksinya, dan juga dari pihak pemerintah yang menyokong penelitian di bidang ini, menyokong advokasi dari organisasi religious, menyediakan alat kontrasepsi untuk remaja seperti kondom yang dapat dibeli dengan harga murah pun tidak dipungut bayaran, menyelenggarakan pendidikan reproduksi di sekolah dan memberikan informasi melewati media yang seluas luasnya. Situasi yang secara umum dapat terjadi pada proses seksual yang tak aman adalah: kehamilan yang tak diharapkan yang akan menjurus ke pengguguran atau kehamilan remaja yang beresiko, terinfeksi penyakit menular seksual,termasuk didalamnya HIV/AIDS. Upaya pencegahan yang direkomendasikan adalah: tak mengerjakan kekerabatan seksual. Seandainya sudah berkaitan direkomendasikan untuk memakai alat kontrasepsi terlebih kondom (pencegahan Infeksi Menular Seksual) atau alat kontrasepsi lain untuk mencegah kehamilan yang tak diharapkan, dan direkomendasikan untuk mempunyai pasangan yang sehat.

Infeksi Menular Seksual pada remaja

Di Amerika Serikat, remaja usia 15-17 tahun dan dewasa muda 18- 24 tahun adalah klasifikasi usia penderita IMS yang tertinggi dibandingkan dengan klasifikasi usia lain.10 Metaanalisis dari bermacam publikasi di Medline yang dilakukan oleh Chacko, dkk. 2004, mengemukakan bahwa prevalensi klamidia pada wanita usia 15 – 24 tahun di klinik keluarga berencana (KB) adalah: 3,0 -14,2% dan gonore 0,1% – 2,8%.11 Di Thailand, pada 1999 Paz-Bailey, dkk. mengerjakan penelitian di tiga sekolah kejuruan di Propinsi Chiang Rai. Mereka melaporkan bahwa dari 359 remaja wanita usia 15-21 tahun yang sudah mengerjakan kekerabatan seksual, dengan pemeriksaan lab polymerase chain reaction (PCR), 22 orang (6,1%) positif terinfeksi klamidia dan 3 orang (0,3%) terinfeksi gonore.12

Di Indonesia sendiri sampai dikala ini cara pencatatan dan pelaporan kunjungan berobat di sarana pelayanan kesehatan dasar tak dapat diwujudkan rujukan untuk memastikan besaran situasi sulit IMS/ISR. Data yang berasal dari laporan bulanan puskesmas dan rumah sakit pemerintah hanya mencantumkan dua ragam IMS adalah: gonore dan sifilis. Laporan tersebut juga tak mengerjakan analitik  berdasarkan klasifikasi usia dan ragam kelamin. Di Poli Divisi Infeksi Menular Seksual Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo, pada tahun 2004, Infeksi Kemaluan Non Spesifik (IGNS) pada wanita adalah penyakit yang terbanyak adalah 104 dari 541 kunjungan baru pasien wanita. Meskipun gonore ditemukan pada 17 pasien wanita dan trikomonas pada 11 pasien wanita.13

Pencegahan dan penanganan IMS/HIV/AIDS serta kesehatan reproduksi remaja adalah bagian dari paket kesehatan reproduksi esensial (PKRE), yang disetujui dalam Lokakarya Nasional Kesehatan Reproduksi Mei 1996, selain kesehatan ibu & buah hati (KIA) serta KB.14 Pada tahun 1999 Departemen Kesehatan melewati Direktorat Bina Kesehatan Keluarga mencoba mewujudkan keterpaduan PKRE tersebut, dengan menyusun langkah-langkah praktis PKRE di tingkat pelayanan kesehatan dasar menjadi beberapa bagian. Bagian tersebut adalah: kontrasepsi, pelayanan kehamilan, persalinan & nifas, perawatan pasca keguguran, kasus perkosaan, serta pemeriksaan IMS/ISR dan HIV di kalangan remaja. Pelayanan kesehatan reproduksi di tingkat pelayanan kesehatan dasar tersebut diharapkan dapat menurunkan risiko keguguran, kehamilan tak dikehendaki, persalinan pada usia muda, dan menurunkan angka IMS/ISR serta HIV pada remaja. Tapi, sampai dikala ini belum ada implementasi kongkrit, meskipun beberapa uji coba untuk memadukan pelayanan IMS dengan pelayanan KIA atau KB sudah dilakukan oleh Depkes dan lembaga lain.

  • Pelayanan Remaja yang direkomendasikan
  • Pelayanan kesehatan reproduksi yang direkomendasikan adalah:15,16
  • Konseling , informasi dan pelayanan Keluarga Berencana (KB)
  • Pelayanan kehamilan dan persalinan (termasuk: pelayanan pengguguran yang aman, pelayanan bayi baru lahir/neonatal)
  • Pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular seksual (PMS), termasuk pencegahan kemandulan
  • Konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR)
  • Konseling, informasi dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan reproduksi
  • Mengapa Remaja Perlu Mengenal Kesehatan Reproduksi.

Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar mempunyai informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta bermacam unsur yang berkaitan. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja mempunyai sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi.

  1. Pengetahuan dasar yang perlu dikasih kepada remaja
  2. Pengenalan mengenai cara, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
  3. Mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar layak dengan kemauannya dan pasangannya
  4. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta pengaruhnya kepada ykondisi kesehatan reproduksi
  5. Bahaya penerapan obat obatan/narkoba pada kesehatan yreproduksi
  6. Pengaruh sosial dan media kepada perilaku seksual
  7. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
  8. Mengoptimalkan kecakapan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar cakap menangkal hal-hal yang bersifat negatif
  9. Hak-hak reproduksi

Rangkuman

Pengerjaan reproduksi adalah proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab bersama laki-laki ataupun perempuan. Sebab itu baik laki-laki ataupun perempuan seharusnya tahu dan mengerti mengenai bermacam aspek kesehatan reproduksi.

Cara Menjaga Kesehatan Ovarium

Sebagai perempuan kamu tentu mengetahui di dalam tubuh kita ini ada organ yang dinamakan ovarium. Organ ini memiliki peran yang sangat penting jika dikaitkan dengan kemampuan untuk bereproduksi.

Ovarium atau indung telur terbagi dua anggota didalam di kiri dan kanan pinggul. Manusia punyai dua ovarium yang berfungsi memproses sel telur dan mengeluarkan hormon esterogen dan progesteron, menurut keterangan Mary Jane Minkin, MD, profesor obstetri klinis, ginekologi, dan reproduksi di Yale School of Medicine.

Kedua hormon berikut merupakan hormon yang berperan penting atas pertumbuhan tubuh seorang perempuan dikala jaman pubertas seperti pengaruhi pertumbuhan payudara, menstruasi, dan pinggul yang membesar.

Estrogen dan progesteron juga buat persiapan rahim untuk pembuahan.

Berikut ini Popmama.com udah merangkum penjelasan berkenaan ovarium yang sehat dan subur berdasarkan penjelasan lebih dari satu sumber pakar.

Cara menjaga kebugaran ovarium bersama diet kaya nutrisi, delapan gelas air murni dan lakukan olahraga secara rutin.

Vitamin A adalah vitamin mutlak yang menolong menendang mengawali sistem pembelahan sel di dalam memproduksi telur. Makanan yang mengandung vitamin A meliputi telur, susu, bayam, labu dan wortel.

Sebuah kata peringatan: Vitamin A mampu jadi racun di dalam dosis tinggi, seseorang tidak boleh melebihi tunjangan harian yang dianjurkan terutama kala meminumnya di dalam bentuk suplemen atau pil.

Sementara vitamin D udah disebut-sebut untuk manfaatnya bagi kebugaran tulang, fakta yang tidak cukup diketahui adalah bahwa vitamin D memainkan peran mutlak di dalam kebugaran ovarium bersama mengatur kandungan hormon anti-Mullerian (AMH), sebuah hormon yang mampu menilai cadangan ovarium perempuan.

Makanan yang mengandung vitamin D terhitung salmon, jamur dan telur.

Sumber omega-3 meliputi salmon, mackerel, walnuts and soybeans. Selain jadi makanan yang lezat, asam lemak omega-3 berperan mutlak di dalam fluiditas membran dan kebugaran sel untuk menjaga dari kerusakan oksidatif dan meningkatkan kebugaran ovarium.

Sementara itu, perempuan yang ovariumnya sehat mempunyai ciri sebagai berikut :

  • Siklus haid lancar
  • Tidak seberapa sakit saat haid datang
  • Pola hidup sehat
  • Bisa mengelola stres dengan baik
  • Berat tubuh ideal, tidak terlalu kurus atau terlalu gemuk.

Layanan Kesehatan Reproduksi

Membahas tentang layanan kesehatan reproduksi, kita bersama harus sadar bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai bersama dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud didalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Salah satu bagian paling utama dari kebugaran adalah kebugaran reproduksi.

Pengertian kebugaran reproduksi hakekatnya telah tertuang didalam Pasal 71 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 perihal Kesehatan yang menunjukkan bahwa kebugaran reproduksi merupakan situasi sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak hanyalah bebas dari penyakit atau kecacatan yang perihal bersama dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi terhadap laki-laki dan perempuan.

Pemahaman kebugaran reproduksi tersebut terhitung pula adanya hak-hak tiap tiap orang untuk memperoleh service kebugaran reproduksi yang aman, efisien dan terjangkau layaknya dijabarkan didalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 perihal Kesehatan Reproduksi.

Ruang lingkup service kebugaran reproduksi menurut International Conference Population and Development (ICPD) 1994 terdiri dari kebugaran ibu dan anak, keluarga berencana, pencegahan dan penanganan infeksi menular seksual terhitung Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), kebugaran reproduksi remaja, pencegahan dan penanganan komplikasi aborsi, pencegahan dan penanganan infertilitas, kebugaran reproduksi usia lanjut, deteksi dini kanker saluran reproduksi dan juga kebugaran reproduksi lainnya layaknya kekerasan seksual, sunat perempuan dan sebagainya.